Tanah yang Menolak Diam

Bulletin berjudul “Dari Lahan Terdampak” bercerita mengenai lahan-lahan yang beralih fungsi. Di sebuah sudut perkampungan yang kian terhimpit oleh deru pembangunan, Pitra Hutomo menyalin kegelisahan tentang tanah yang terus diperas daya tahannya. Sawah yang dulu hijau kini beralih rupa, sebagian menjadi lahan tambang, sebagian lagi jadi perumahan yang tumbuh tanpa kendali. Bagi Pitra, tanah tak hanya soal ruang produksi pangan, melainkan nadi kehidupan yang menentukan keberlanjutan semesta.
Ia menyinggung bagaimana alih fungsi lahan, dipacu oleh logika keuntungan jangka pendek, telah merampas hak generasi mendatang untuk hidup layak. Petani kehilangan pijakan, masyarakat kehilangan penyangga ekologis, sementara kuasa modal dan negara sering berjalan seiring mengabaikan suara mereka yang bergantung pada bumi.
Namun di tengah kepungan itu, Pitra juga menemukan bara harapan. Ia melihat upaya kolektif warga menjaga ruang hidupnya: menolak tambang, merawat sawah, hingga menghidupkan kembali praktik agraria yang adil. Kesadaran ini tumbuh sebagai perlawanan sunyi, tapi tegas, bahwa bumi bukan sekadar komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Tulisan Pitra akhirnya menjadi pengingat: masa depan hanya mungkin jika hari ini kita berani menegakkan keadilan ekologis. Bumi harus diperlakukan sebagai rumah bersama, bukan mesin produksi tanpa henti. Sebab sekali ia rusak, tak ada yang tersisa selain penyesalan yang diwariskan.Baca tulisan lengkapnya dengan menghubungi admin@crrs.or.id atau melalui DM Instagram @crrsindonesia.
