Di Balik Pulung Gantung : Kisah Luka Lansia di Gunung Kidul

Gunungkidul, dengan lanskap karst yang anggun, menyimpan cerita getir yang jarang disuarakan. Di tengah sawah yang menguning dan desa-desa yang damai, angka kematian di usia senja justru meninggi. Dari 2012 hingga 2022, lebih dari separuh peristiwa kematian tragis di kabupaten ini melibatkan mereka yang sudah lanjut usia.

Sebagian besar berpulang dengan cara serupa: seutas tali yang sederhana, sebatang pohon di halaman rumah, atau balok kayu di kandang ternak. Masyarakat menyebutnya sebagai tanda “pulung gantung”—bola api mistis yang dipercaya menandai ajal. Namun di balik mitos, penelitian ini menunjukkan wajah rapuh kehidupan lansia: kesepian setelah kehilangan pasangan, tubuh yang menua dengan penyakit kronis, rasa tak ingin menjadi beban keluarga, hingga tekanan ekonomi yang tak kunjung reda.

Lelaki tua lebih banyak tercatat dibanding perempuan. Mereka lebih sering terjebak dalam kesendirian, sementara kaum ibu masih punya jaringan keluarga dan komunitas sebagai sandaran. Di Gunungkidul, angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah alarm yang mengingatkan kita betapa hak-hak lansia atas kesehatan mental, perawatan, dan dukungan sosial sering luput dari perhatian.

Mereka yang menua tak butuh belas kasihan, mereka butuh ditemani, didengar, dan merasa masih berarti. Jika kita menutup mata, senja mereka akan terus dipenuhi sunyi yang mematikan.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak atau tergerak untuk membaca lebih lengkap bisa klik link ini, tapi jika link tidak bisa diakses silakan hubungi admin@crrs.or.id atau kirim DM ke Instagram @crrsindonesia.


Ditulis berdasarkan penelitian oleh F. A. Nurdiyanto, Ririn Mamiek Wulandari, Ardi Primasari, dan Enggar Putri Harjanti.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *