Koperasi : Bukan Sekadar Skema, Tapi Ruang Hidup Bersama

Bagi Laksmi Adriani Savitri, peneliti di Center for Restoration and Regeneration Studies (CRRS), koperasi bukanlah sekadar instrumen ekonomi, melainkan ruang hidup bersama yang lahir dari semangat kolektif dan nilai keadilan sosial. Namun, idealisme itu kini tergerus. Dalam program Koperasi Merah Putih, ia menyoroti pendekatan top-down yang berbasis kredit berbunga dan bernuansa perbankan, menjadikan koperasi hanya perpanjangan lembaga keuangan yang memosisikan warga sebagai nasabah, bukan pemilik. Pandangan ini bertolak belakang dengan cita-cita Mohammad Hatta yang membayangkan koperasi sebagai bentuk sosialisme berbasis gotong royong. Laksmi mengkritik model koperasi yang semakin teknokratis, korporatis, dan mengabaikan partisipasi rakyat, hingga pembangunan desa direduksi menjadi angka semata, bukan proses sosial yang bermakna. Meski demikian, ia masih melihat harapan pada koperasi seperti Koperasi Produksi Wangunwati di Tasikmalaya yang tumbuh dari kebutuhan nyata petani, dikelola kolektif tanpa intervensi negara, dan bertahan karena menjunjung nilai sosial. Menurutnya, pembangunan yang berkeadilan harus dimulai dari bawah, dengan mendengarkan rakyat dan menjadikan solidaritas, transparansi, serta partisipasi sebagai fondasi. 

Selengkapnya tentang pemikiran kritis Laksmi bisa kamu baca dalam buku Insight: Koperasi Merah Putih, Utang Sejarah terbitan Litbang Kompas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *