Mama Tanah yang Dirampas: Luka Papua, Luka Kita Semua

Di Malamoi, Papua Barat, tanah bukan sekadar hamparan tempat berpijak. Bagi orang Moi, tanah adalah mama—pemberi makan, penopang hidup, dan peneguh identitas. Namun, apa yang terjadi ketika mama itu direnggut? Hutan yang dulu menenangkan kini dibongkar tanpa ampun. Sungai yang dulu memberi makan kini membawa racun. Sagu, yang menjadi denyut kehidupan sejak nenek moyang, perlahan tergusur oleh nasi yang datang dari luar—bukan karena pilihan bebas, tapi karena keterpaksaan dan kehilangan.
Buku ini menelusuri retakan demi retakan yang diciptakan oleh industri ekstraktif, pembangunan, dan kekuasaan yang memutus hubungan manusia dengan alamnya. Ia mengisahkan bagaimana adat dipaksa bernegosiasi dengan negara, modal, bahkan agama. Tapi di tengah reruntuhan itu, orang Moi tak menyerah. Mereka mencari cara bertahan, meramu identitas baru, berjuang agar akar tak sepenuhnya tercerabut.
Ini bukan sekadar kisah Papua. Ini adalah cerita tentang tanah yang tak lagi bebas, tentang ibu yang dirampas, tentang luka yang bisa dimengerti oleh siapa pun di negeri ini yang pernah melihat alamnya hilang dan hidupnya berubah.
Buku ini bisa Anda dapatkan di Insist Press. Miliki, baca, dan rasakan—karena luka Papua adalah luka kita semua.
